Pelajaran hidup dari seorang pembantu rumah tangga

Tepat seminggu yang lalu, kabar gembira itu datang. Ketika keluarga kecilku sedang pusing pusingnya mengurus kegiatan rumah tangga akibat mbak lastri asisten rumah tanggaku yang sangat setia dan bisa diandalkan mendadak pamit ke Jakarta karena ada saudaranya yang meninggal.Pekerjaan rumah tangga yang ternyata tidak bisa di bilang enteng, mengingat saya dan isteri juga bekerja dan kami masih mempunyai 2 anak yang masih kecil. Datanglah sesosok wanita paruh baya yang ternyata baru saja datang ke rumah seorang kawan untuk meminta pekerjaan membantu rumah tangga. Gayung bersambut di telponlah saya oleh kawanku, karena dia tahu saya sedang mencari pengganti mbak lastri sementara hingga dia kembali dari Jakarta.

Mak Ngatinah namanya, usia sudah sekitar 50 tahunan, namun masih nampak enerjik. Dia datang dari kampung atas. Daerah pegunungan yang berjarak sekitar 5km dari tempat tinggal kami. Dia ternyata sudah berkecimpung sangat lama di dunia pekerjaan rumah tangga. Sebelumya, dia bekerja di rumah pedagang kaya yang bertetangga dengan kawanku yang menghubungkan saya dengan mak Ngatinah ini. Karena anak majikannya meminta dia untuk ikut ke kota tempat ia tinggal, mak Ngatinah ini tidak mau sehingga memutuskan untuk mencari pekerjaan baru yang di kampung sendiri saja. Dia datang bak malaikat penyelamat. Lega sekali rasanya mengingat kami benar-benar kelabakan mengurus pekerjaan rumah dan konsentrasi kami juga terbagi mengingat ibu juga sedang sakit. 

Namun yang ingin saya bagikan di artikel kali ini, bukan lah pekerjaan rumah tangga atau sejenisnya.Melainkan bagaimana saya di kagetkan dengan pengakuannya saat pertama kali datang untuk saya wawancarai tentang salah satu anaknya yang ternyata kuliah di salah satu universitas favorit negeri ini, mana lagi kalau bukan UGM. Jurusan yang di tempuhnya pun bukan jurusan sembarangan, bahkan termasuk salah satu jurusan terfavorit kampus itu yaitu jurusan akuntansi. Tentu saja saya tidak percaya begitu saja dengan pengakuan tersebut, saya langsung cross check, karena kebetulan tempat sekolah anak tersebut waktu SMP sangat dekat dengan rumahku. Dan pengakuan mak Ngatinah ternyata benar adanya. Bahkan saat masih SMP selalu Juara 1. Saya jadi kepo dan semakin tertarik untuk menggali lebih dalam tentang keluarga mak Ngatinah ini terutama bagaimana ceritanya dia bisa mendidik anak yang ternyata bernama Siti tersebut bisa menjadi anak yang hebat. 

Mak Ngatinah yang hanya lulusan SD ini sebenarnya juga tidak mengerti tentang kegiatan sekolah Siti. Bahkan saat di awal dia bilang kuliah di UGM kemudian saat saya tanya jurusannya apa, diapun terlihat bingung untuk menjawab. Dia kesulitan untuk bilang sebuah kata akuntansi, pokoknya belepotan lah. Dia juga tidak mempunyai formulasi khusus untuk mendidik anak tersebut. Yang ia tahu, dari SD Si Siti selalu mendapat ranking. Dia mendidik juga biasa saja layaknya orang tua yang lainnya, bahkan mungkin kurang menurutnya. Karena mak Ngatinah sendiri juga terbiasa bekerja sebagai pembantu rumah tangga dari Si Siti kecil. Jadi Siti ini banyak di tinggal-tinggal juga. 

Satu dua hari pertama bersama mak Ngatinah saya mulai mengerti jawaban dari semua pertanyaan yang terngiang di kepalaku. Mak Ngatinah ini ternyata rajin sekali beribadah, baik ibadah sunnah  maupun wajib. Saya jadi malu sendiri, saya kalah jauh sama seorang pembantu dalam hal ibadah. Bahkan mak Ngatinah selalu puasa sunnah senin dan kamis. " Beruntung sekali kami menemukan pembantu yang seperti ini" gumamku dalam hati. Kesuksesan dan prestasi Siti pasti juga dari doa-doa ibunya ini. Mak Ngatinah sadar betul bahwa ilmunya sangat terbatas karena hanya lulusan SD. Kondisi ekonominya pun ia tahu hanya cukup untuk sekedar bertahan hidup. Namun semangatnya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, terbayar sudah. Yang mulanya di rasa tidak mungkin, menjadi mungkin. Kun Fayakun. 

Hari ini kita belajar dari seorang pembantu rumah tangga dengan segala keterbatasan ternyata mampu menyekolahkan anak sampai ke jenjang tinggi. Tidak tanggung-tanggung ke kampus terfavorit dan jurusan favorit pula. Itu semua tidak lepas dari doa ibu yang selalu mendekatkan diri kepada Allah. Semoga Siti bisa terus memanjat mimpinya dan membuat bangga keluarga atau bahkan negaranya kelak. Aminn





2 comments:

  1. Pelajaran bisa kita dapatkan dari siapa saja... hal positif yang ada dari orang lain bisa kita ikuti...semoga kita bisa menjadi orang yang lebih baik dari hari ini...

    ReplyDelete
  2. Sipp lanjutkan dek titi.. Tetap semangatt

    ReplyDelete

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam.

Powered by Blogger.